HANDRIANA, EKA (2026) AKUMULASI LEWAT ABRASI: PERAMPASAN LAHAN TAMBAK DI PESISIR KECAMATAN TUGU, KOTA SEMARANG. S2 thesis, UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG.
|
Text
23.O1.0001 - EKA HANDRIANA-COVER_a.pdf Download (1MB) | Preview |
|
|
Text
23.O1.0001 - EKA HANDRIANA-ISI_a.pdf Restricted to Registered users only Download (5MB) |
||
|
Text
23.O1.0001 - EKA HANDRIANA-DAPUS_a.pdf Download (1MB) | Preview |
|
|
Text
23.O1.0001 - EKA HANDRIANA-LAMP_a.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
Abstract
Bagaimana sebuah degradasi lingkungan dapat menjelma menjadi mesin akumulasi kapital? Penelitian ini menjawabnya lewat penelusuran sebuah kasus perampasan lahan tambak di pesisir Kecamatan Tugu, Kota Semarang, tempat terjadinya abrasi sejak 1990-an. Abrasi di pesisir Tugu telah menenggelamkan sekitar 41,43% (1.211,20 dari 2.923,34 hektare) lahan tambak dan memusatkannya ke tangan segelintir pemodal. Fenomena pemusatan ini relevan dibaca melalui lensa Accumulation by Dispossession (AbD) David Harvey. Namun kerangka tersebut belum memadai ketika dikontekstualisasikan di Tugu. Krisis yang mendahului perampasan di Tugu bukan sekadar over-akumulasi yang terjadi atas kontradiksi kapital dan buruh, melainkan krisis sosial-ekologis yang melibatkan alam-non manusia dan kerja reproduksi yang tak diakui dan tak diperhitungkan dalam ekonomi formal. Karenanya, penelitian ini merumuskan kerangka Akumulasi Lewat Abrasi (ALA) dengan memperluas AbD melalui Ekologi Politik Urbanisasi dan Teori Reproduksi Sosial, serta mengontekstualisasikan mekanisme Accumulation by Contamination dan Accumulation by Adaptation. Menggunakan pendekatan kualitatif-etnografis dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan penelusuran dokumen, penelitian ini menemukan bahwa abrasi di Tugu bekerja sebagai agen perampasan melalui tiga mekanisme yang saling menguatkan: memproduksi kondisi lewat devaluasi lahan dan pengalihan biaya kerusakan; mengeksploitasi kondisi lewat akuisisi lahan murah yang dilegitimasi pasar, hukum, dan tata ruang; serta memperlancar perampasan lewat perampasan kerja reproduksi ekologi sosial komunitas. Perencanaan reklamasi pada 2021, penandatanganan nota kesepahaman investasi penataan pesisir Semarang – Batang pada 2025, hingga pematangan rencana proyek Giant Sea Wall (GSW) pada 2026, menegaskan bahwa abrasi yang “diproduksi” dalam tiga dekade di Tugu membuka jalan bagi perampasan. Dengan demikian, abrasi bukan sekadar akibat, melainkan agen bagi kapitalisme pesisir. Temuan ini berkontribusi sebagai alat penjelas tambahan bagi konsep AbD, sekaligus menyumbang diskusi kapitalisme kontemporer di Global Selatan atas penguasaan lahan pesisir yang rentan terhadap degradasi lingkungan.
| Item Type: | Thesis (S2) |
|---|---|
| Subjects: | 300 Social Sciences |
| Divisions: | Faculty of Environmental Science and Technology > Graduate Program in Environment and Urban Studies |
| Depositing User: | mr Dwi Purnomo |
| Date Deposited: | 22 Oct 2026 07:35 |
| Last Modified: | 22 Oct 2026 07:35 |
| URI: | http://repository.unika.ac.id/id/eprint/40374 |
| Keywords: | abrasi, accumulation by dispossession, akumulasi lewat abrasi, krisis sosial ekologis, reproduksi sosial |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
