REVITALISASI KAWASAN KLENTENG TAY KAK SIE SEMARANG SEBAGAI UPAYA PENGUATAN SIGNIFIKANSI KALI SEMARANG

JONATHAN S, ADRIAN (2026) REVITALISASI KAWASAN KLENTENG TAY KAK SIE SEMARANG SEBAGAI UPAYA PENGUATAN SIGNIFIKANSI KALI SEMARANG. S1 thesis, UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG.

[img]
Preview
Text
22.A1.0037 - ADRIAN JONATHAN SUJATMIKO-COVER_a.pdf

Download (809kB) | Preview
[img]
Preview
Text
22.A1.0037 - ADRIAN JONATHAN SUJATMIKO-DAPUS_a.pdf

Download (1MB) | Preview
[img] Text
22.A1.0037 - ADRIAN JONATHAN SUJATMIKO-LAMP_a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (785kB)
[img] Text
22.A1.0037 - ADRIAN JONATHAN SUJATMIKO-ISI_a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (25MB)

Abstract

Revitalisasi kawasan bersejarah merupakan langkah penting untuk merespons menurunnya kualitas ruang kota, terutama di wilayah yang memiliki nilai budaya, sosial, sekaligus spiritual. Kawasan sekitar Kelenteng Tay Kak Sie di Pecinan Semarang adalah salah satu contohnya. Kelenteng yang telah berdiri lebih dari tiga abad ini tidak hanya menjadi pusat religius bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga simbol toleransi dan keberagaman budaya di Semarang. Namun, kondisi yang ada sekarang memperlihatkan penurunan kualitas lingkungan, baik dari sisi fisik maupun sosial. Kali Semarang yang membelah kawasan, alih-alih menjadi elemen pendukung, justru menghadapi masalah pencemaran dan kehilangan fungsi ruang publik. Karena itu, gagasan revitalisasi hadir untuk menghubungkan kembali kelenteng, lingkungan sekitarnya, dan sungai sebagai satu kesatuan ruang kota. Dalam praktiknya, Kelenteng Tay Kak Sie berfungsi sebagai rumah ibadah umat Tri Dharma (Konfusianisme, Taoisme, dan Buddha Mahayana). Lebih dari itu, kelenteng juga menjadi pusat kegiatan budaya, mulai dari festival Imlek, perayaan Cap Go Meh, hingga ritual tahunan yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Posisinya yang berada di jantung Pecinan menempatkannya sebagai bagian penting dari identitas Kota Lama Semarang, di mana kehidupan sosial, perdagangan, dan hunian bercampur dalam ruang yang padat. Sayangnya, potensi besar kawasan ini belum benar-benar tergarap. Infrastruktur yang minim, tata ruang sempit, serta kualitas lingkungan Kali Semarang yang kurang baik masih menjadi kendala utama dalam pengembangannya sebagai destinasi wisata dan ekonomi kreatif. Ada beberapa alasan mendasar mengapa kawasan ini layak dipilih sebagai fokus revitalisasi. Pertama, Tay Kak Sie memiliki peran ganda: sebagai landmark spiritual dan destinasi budaya, tetapi belum mampu dimaksimalkan. Kedua, lokasinya yang berada di jalur utama Kali Semarang. sungai dengan sejarah panjang sejak masa kolonial memberikan peluang besar untuk menjadikannya pengikat desain kawasan. Ketiga, kondisi lingkungan sekitar yang sempit, padat, dan tidak tertata menuntut adanya intervensi desain yang tetap menghargai karakter tradisional, namun bisa menjawab kebutuhan ruang modern. Dengan begitu, revitalisasi tidak hanya menghidupkan kembali fungsi ibadah, tetapi juga memberi energi baru bagi kegiatan wisata, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya. Urgensi proyek ini semakin terasa bila dikaitkan dengan arah pembangunan kota Semarang yang kini menekankan penguatan sektor pariwisata berbasis warisan budaya. Revitalisasi Kelenteng Tay Kak Sie berpotensi menghadirkan destinasi terpadu yang merangkul aspek religi, sejarah, budaya, dan ekologi sekaligus. Kehadiran ruang publik baru, seperti paviliun interpretatif, semi-museum, hingga ruang terbuka di tepi sungai, dapat menjadi strategi penting untuk menarik wisatawan sekaligus mendorong partisipasi warga. Ruang-ruang tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan wadah yang memperkaya pengalaman pengunjung tanpa menghilangkan nilai spiritualitas kelenteng. Lebih jauh, konsep revitalisasi yang ditawarkan juga membuka peluang penerapan desain berkelanjutan mulai dari efisiensi energi hingga material ramah lingkungan agar kawasan tetap relevan dengan tuntutan masa kini. Dengan pendekatan seperti ini, proyek revitalisasi Kelenteng Tay Kak Sie dapat menjadi contoh bagi kota lain yang menghadapi dilema serupa: menjaga warisan sejarah sembari merespons kebutuhan modern. Pada akhirnya, revitalisasi bukan sekadar memperindah wajah kota, melainkan juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga sejarah, spiritualitas, dan lingkungan hidup. Menghidupkan kembali peran Kali Semarang sebagai pengikat kawasan akan memperkuat identitas Pecinan sekaligus menciptakan ruang kota yang lebih inklusif, hidup, dan berkesinambungan. Proyek ini diharapkan mampu menempatkan kawasan Pecinan khususnya Kelenteng Tay Kak Sie sebagai ruang warisan yang tidak hanya dilestarikan, tetapi juga terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: 700 Arts and Recreation > 720 Architecture
Divisions: Faculty of Architecture and Design
Depositing User: mr Dwi Purnomo
Date Deposited: 19 Oct 2026 02:02
Last Modified: 19 Oct 2026 02:02
URI: http://repository.unika.ac.id/id/eprint/40276
Keywords: Revitalisasi, Kelenteng Tay Kak Sie, Identitas Budaya, Identitas Budaya, Kali Semarang, Pariwisata Heritage

Actions (login required)

View Item View Item