STRATEGI KOMUNIKASI BUDAYA DALAM PELESTARIAN WAYANG KULIT DI DESA WISATA WAYANG SIDOWARNO

ARDI, STEVANUS JULIAN (2026) STRATEGI KOMUNIKASI BUDAYA DALAM PELESTARIAN WAYANG KULIT DI DESA WISATA WAYANG SIDOWARNO. S1 thesis, UNIVERSITAS KHATOLIK SOEGIJAPRANATA.

[img]
Preview
Text
21.M1.0043 - STEFANUS JULIAN ARDI-COVER_a.pdf

Download (852kB) | Preview
[img] Text
21.M1.0043 - STEFANUS JULIAN ARDI-ISI _a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB)
[img]
Preview
Text
21.M1.0043 - STEFANUS JULIAN ARDI-DAPUS_a.pdf

Download (807kB) | Preview
[img] Text
21.M1.0043 - STEFANUS JULIAN ARDI-LAMP _a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (3MB)

Abstract

Menurunnya minat generasi muda terhadap wayang kulit akibat modernisasi dan gempuran hiburan digital menjadi tantangan besar dalam pelestarian budaya . Penelitian ini menyoroti respons adaptif Desa Sidowarno yang bertransformasi dari desa pengrajin menjadi Desa Wisata Edukasi untuk menjawab tantangan tersebut. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam strategi komunikasi budaya yang diterapkan oleh masyarakat setempat dalam upaya melestarikan wayang kulit. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama: wawancara mendalam dengan narasumber kunci yang mewakili berbagai elemen komunitas, meliputi pengelola desa wisata (Mamik Raharjo, Sunardi Baron), pengrajin, kepala desa (Jaka Sumarna), generasi muda (Genmawa), dalang cilik (Nano Aji), dan pengunjung (Yayuk); observasi partisipatif pada proses pembuatan wayang, suasana lokakarya, dan interaksi antara pengrajin dengan pengunjung ; serta dokumentasi berupa arsip foto, video kegiatan, dan materi promosi digital desa. Analisis data menggunakan landasan teori Culture-Centered Approach (CCA) untuk membedah bagaimana komunitas menempatkan diri sebagai pusat dari strategi dan perubahan. Hasil penelitian menunjukkan strategi yang berpusat pada komunitas (CCA) melalui empat pilar. Pertama, Voice: Masyarakat memaknai wayang sebagai inti identitas, filosofi, dan sumber ekonomi yang diwariskan turun-temurun . Kedua, Reflexivity: Adanya kesadaran bersama komunitas dalam merefleksikan tantangan, yang menjadi dasar tindakan inisiatif. Ketiga, Agency: Komunitas aktif berinovasi dengan pembagian peran yang jelas; generasi tua menjaga pakem kerajinan, sementara generasi muda (Genmawa) mengelola manajemen dan promosi digital . Keempat, Structural transformation: Keberhasilan didukung oleh kolaborasi eksternal (swasta dan akademisi) serta pemasaran intensif di media sosial . Disimpulkan bahwa strategi berbasis komunitas ini berhasil menjembatani tradisi dan modernitas. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah krisis regenerasi pengrajin, karena minat generasi muda lebih tertuju pada manajemen digital daripada menekuni kerajinan . Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti lebih dalam tentang bagaimana media sosial digunakan untuk memperkenalkan nilai budaya kepada generasi muda di desa wisata lainnya.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: 300 Social Sciences > 302.2 Communication
Divisions: Faculty of Law and Communication > Department of Communication Science
Depositing User: mr Dwi Purnomo
Date Deposited: 21 Apr 2026 07:44
Last Modified: 21 Apr 2026 07:44
URI: http://repository.unika.ac.id/id/eprint/39677
Keywords: Strategi Komunikasi Budaya, Strategi Komunikasi Budaya, Pelestarian Wayang Kulit, Desa Wisata Sidowarno, Culture Centered Approach, Pengrajin Wayang Kulit.

Actions (login required)

View Item View Item