PERBANDINGAN RANTAI PASOK PANGAN PENDEK DAN KONVENSIONAL TERHADAP PERSEPSI KESEGARAN DAN KUALITAS FISIK SAWI PUTIH (Brassica rapa subsp. pekinensis) DAN SELADA (Lactuca sativa)

SUSANTO, JOVAN ADRIEL and FERLIM, NICKO FRAKIE (2026) PERBANDINGAN RANTAI PASOK PANGAN PENDEK DAN KONVENSIONAL TERHADAP PERSEPSI KESEGARAN DAN KUALITAS FISIK SAWI PUTIH (Brassica rapa subsp. pekinensis) DAN SELADA (Lactuca sativa). S1 thesis, UNIVERSITAS KHATOLIK SOEGIJAPRANATA.

[img]
Preview
Text
22.I1.0054 - JOVAN ADRIEL SUSANT-22.I1.0068 - NICKO FRANKLE FERLIM - COVER_a.pdf

Download (902kB) | Preview
[img] Text
22.I1.0054 - JOVAN ADRIEL SUSANT-22.I1.0068 - NICKO FRANKLE FERLIM - ISI_a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
[img]
Preview
Text
22.I1.0054 - JOVAN ADRIEL SUSANT-22.I1.0068 - NICKO FRANKLE FERLIM - DAPUS_a.pdf

Download (861kB) | Preview
[img] Text
22.I1.0054 - JOVAN ADRIEL SUSANT-22.I1.0068 - NICKO FRANKLE FERLIM - LAMP_a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sistem Short Food Supply Chain (SFSC) dan rantai pasok pangan konvensional terhadap tingkat kesegaran dan kualitas fisik dua komoditas sayuran daun, yaitu sawi putih (Brassica rapa subsp. pekinensis) dan selada (Lactuca sativa). Sistem SFSC merupakan mekanisme distribusi dengan jarak lebih pendek antara produsen dan konsumen, sehingga diharapkan dapat mempertahankan mutu produk segar secara lebih optimal. Sebaliknya, rantai pasok konvensional melibatkan lebih banyak perantara dan waktu distribusi lebih lama yang berpotensi menurunkan mutu produk akibat penanganan serta penyimpanan yang kurang terkontrol. Penelitian dilakukan pada dua jalur distribusi, yaitu SFSC (CV Tirta Fertindo Pratama dan Kebun Bandungan) dan rantai konvensional (Pasar Karang Ayu dan Superindo). Metode yang digunakan adalah mixed methods melalui survei lapangan, wawancara dengan pelaku distribusi dan 60 konsumen, serta analisis laboratorium terhadap kadar air, tekstur, dan warna. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem distribusi berpengaruh nyata terhadap kualitas fisik sayuran (p≤0,05). Pada parameter kadar air, sayuran SFSC memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan konvensional. Sawi putih dari Kebun Bandungan memiliki kadar air 94,35%, lebih tinggi dibandingkan Pasar Karang Ayu (92,72%) dan Superindo (93,60%). Selada dari Fertindo mencatat kadar air tertinggi 94,83%, sedangkan Pasar Karang Ayu hanya 91,76%, menandakan turgor sel yang lebih baik dan kesegaran lebih terjaga. Pada parameter tekstur, nilai hardness tertinggi secara konsisten diperoleh dari SFSC. Sawi putih dari Kebun Bandungan mencapai 3792 gf, lebih tinggi dibandingkan Superindo (3245 gf) dan Pasar Karang Ayu (3505 gf). Selada dari Fertindo memiliki nilai kekerasan 2653 gf, sedangkan Pasar Karang Ayu 2257 gf, menunjukkan jaringan sel yang lebih kuat dan belum mengalami pelunakan akibat kehilangan air. Pada parameter warna, sawi putih dari Superindo memiliki nilai lightness (L*) tertinggi (hingga 79,00), sedangkan Kebun Bandungan dan Pasar Karang Ayu berada di kisaran 71–75. Namun, nilai a* pada Superindo (–6,71) lebih tinggi atau kurang negatif dibandingkan Kebun Bandungan (–7,59) dan Pasar Karang Ayu (–8,95), menunjukkan warna hijau yang lebih pudar akibat degradasi klorofil. Nilai b* sawi putih tertinggi juga terdapat pada Superindo (30,82), lebih tinggi dari Kebun Bandungan (22,85), menunjukkan bahwa sayuran dari SFSC cenderung memiliki warna hijau yang lebih alami dan tidak kekuningan. Pada selada, nilai L* tertinggi diperoleh dari Fertindo (hingga 60,26), sedangkan Pasar Karang Ayu dan Kebun Bandungan berkisar antara 53–60. Nilai a* selada dari Fertindo sebesar –16,90, sedikit lebih negatif dibandingkan Pasar Karang Ayu (– 15,70), menunjukkan warna hijau yang lebih pekat. Nilai b* pada selada dari Fertindo juga lebih rendah (30,43) dibandingkan Pasar Karang Ayu (33,57), menandakan tingkat kekuningan yang lebih kecil. Dengan demikian, sayuran dari SFSC cenderung memiliki warna hijau yang lebih stabil dan tidak mengalami degradasi pigmen yang cepat akibat distribusi singkat (±25 menit) tanpa penyimpanan, sementara sistem konvensional melibatkan penyimpanan 1–2 hari dan waktu transportasi ±1 jam sebelum dijual. Sebagian besar konsumen menilai sayuran dari SFSC lebih segar dan menarik, meskipun keputusan pembelian masih dipengaruhi oleh harga dan aksesibilitas. Pengetahuan konsumen terhadap konsep SFSC masih terbatas, di mana hanya 30% responden mengetahui asal produk yang dibeli. Secara keseluruhan, SFSC terbukti lebih efektif dalam mempertahankan kesegaran dan mutu fisik sayuran dibandingkan sistem konvensional. Jalur distribusi yang lebih pendek dan penanganan pascapanen yang lebih baik mampu menjaga kadar air, tekstur, dan warna alami produk. Implementasi SFSC di Indonesia berpotensi besar dikembangkan melalui dukungan kebijakan, pemanfaatan teknologi digital untuk distribusi langsung, serta peningkatan kapasitas petani dalam menjaga kualitas produk segar secara berkelanjutan.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: 600 Technology (Applied sciences) > 660 Chemical engineering > 664 Food technology
Divisions: Faculty of Agricultural Technology > Department of Food Technology
Depositing User: mr Dwi Purnomo
Date Deposited: 20 Apr 2026 07:45
Last Modified: 20 Apr 2026 07:45
URI: http://repository.unika.ac.id/id/eprint/39650
Keywords: PERBANDINGAN RANTAI PASOK PANGAN PENDEK, KONVENSIONAL, KUALITAS, FISIK SAWI PUTIH (Brassica rapa subsp. pekinensis), SELADA (Lactuca sativa)

Actions (login required)

View Item View Item