EVALUASI KEBIJAKAN PENDANAAN DENGAN ANALISIS EBIT INDIFERENCE POINT DI PT. KALBE FARMA TBK.

BUDIARTI, DEASY (2004) EVALUASI KEBIJAKAN PENDANAAN DENGAN ANALISIS EBIT INDIFERENCE POINT DI PT. KALBE FARMA TBK. Other thesis, Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata.

[img]
Preview
Text (COVER)
95.60.0252 Deasy Budiarti COVER.pdf

Download (175kB) | Preview
[img] Text (BAB I)
95.60.0252 Deasy Budiarti BAB I.pdf
Restricted to Registered users only

Download (120kB)
[img] Text (BAB II)
95.60.0252 Deasy Budiarti BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (387kB)
[img] Text (BAB III)
95.60.0252 Deasy Budiarti BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (103kB)
[img] Text (BAB IV)
95.60.0252 Deasy Budiarti BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (225kB)
[img] Text (BAB V)
95.60.0252 Deasy Budiarti BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (115kB)
[img]
Preview
Text (DAFTAR PUSTAKA)
95.60.0252 Deasy Budiarti DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (145kB) | Preview
[img]
Preview
Text (LAMPIRAN)
95.60.0252 Deasy Budiarti LAMPIRAN.pdf

Download (108kB) | Preview

Abstract

Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah membuat Indonesia tertinggal jauh dengan negara-negara tetangganya. Bahkan, saat ini Indonesia terlilit hutang dengan negara-negara lain dan tidak dapat membayar cicilan pinjaman beserta bunganya. Oleh karena itu, Indonesia mengajukan permohonan pengurangan hutang (haircut). Hutang Indonesia kepada luar negeri terdiri atas hutang sektor swasta dan hutang badan-badan milik pemerintah. Pemicu krisis ekonomi yang berkepanjangan ialah kondisi ekonomi yang tidak kondusif secara mikro dan makro. Kondisi mikro mengacu pada kinerja perusahaan-perusahaan secara individual, sedangkan kondisi makro mengacu pada kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi pemerintah, yang mempengaruhi perekonomian nasional, yang secara tidak langsung berimplikasi bagi perekonomian regional dan global. Pada prinsipnya, setiap perusahaan membutuhkan dana. Pemenuhan dana tersebut dapat berasal dari sumber intern atupun sumber ekstem. Namun umumnya perusahaan cenderung menggunakan modal sendiri sebagai modal parmanen ketimbang modal asing yang hanya digunakan sebagai pelengkap apabila dana yang diperlukan kurang mencukupi. Karena itu, para manajer keuangan dengan tetap memperhatikan cost of capital perlu menentukan struktur pendanaan dalam upaya menetapkan apakah kebutuhan dana perusahaan dipenuhi dengan modal sendiri ataukah dipenuhi dengan modal asing. Dalam melakukan keputusan pendanaan, perusahaan dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi sumber-sumber dana ekonomis guna membelanjai kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan usahanya. Untuk itu, dalam penetapan struktur pendanaan, perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhunya. Perencanaan ataupun prediksi keadaan perusahaan di masa yang akan datang agar perusahaan mampu menentukan langkah-langkah yang tepat dalam menentukan usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kebijakan mengenai pendanaan adalah keputusan yang paling krusial dalam organisasi, karena kesalahan di dalam pengambilan keputusan tersebut akan mempengaruhi nilai peusahaan di mata pemegang saham dan akan merugikan perusahaan secara keseluruhan. Maka perlu adanya analisis untuk mencari alternatif pendanaan apakah dengan pinjaman atau dengan modal sendiri agar perusahaan tidak merugi. tujuan penelitian ini adalah Untuk menganalisis pendanaan yang sebaiknya digunakan oleh PT kalbe Farma Tbk. Dalam penelitian ini yang digunakan adalah Analisis EBIT Indeferent Point. Pertama menentukan titik break- event atau indeferent bagi EBIT masing-masing alternatif dengan menghitung EPS, kedua menghitung titik-titik potong indeferent point. Dari hasil perhitungan diambil kesimpulan sebagai berikut pada tahun 1998 EBIT yang diperoleh PT. Kalbe Farma Tbk adalah sebesar Rp 171.359.060.810,00 menunjukkan bahwa nilai Laba operasi pada tahun 1998 lebih kecil dari EBIT* yang sebesar Rp 281.222.409.699,61, maka alternatif pembelanjaan dengan pinjaman yang dilakukan oleh PT. Kalbe Farma Tbk tidak dapat dibenarkan.Pada tahun 1999 tingkat EBIT Indeference Point tidak dapat diidentifikasi, karena pada tahun tersebut PT. Kalbe Farma Tbk tidak membutuhkan dana baik itu dari luar yaitu pinjaman maupun dengan penambahan jumlah saham. Pada tahun 2000 PT. Kalbe Farma Tbk memperoleh Laba operasi sebesar Rp 390.907.297.601,00 menunjukkan bahwa nilai laba operasi pada tahun 2000 lebih besar dari EBIT* yang sebesar (Rp 12.735.273.035,24), maka alternatif pembelanjaan dengan hutang yang menjadi alternatif pembelanjaan yang lebih menguntungkan. Karena kebijakan pendanaan yang dilakukan oleh manajemen PT Kalbe Farma Tbk melalui pencarian pinjaman, maka hal tersebut dapat dibenarkan. Pada tahun 2001 PT. Kalbe Farma Tbk memperoleh laba operasi sebesar Rp 336.422.893.111,00 menunjukkan bahwa laba operasi pada tahun 2001 lebih besar dari EBIT* yang sebesar Rp 4.299.278.482,03, maka alternatif pembelanjaan dengan hutang adalah alternatif yang lebih baik digunakan. Karena kebijakan pendanaan yang dilakukan oleh manajemen PT Kalbe Farma Tbk melalui pencarian pinjaman, maka hal tersebut dapat dibenarkan. Pada tahun 2002 tingkat EBIT Indeference Point tidak dapat diidentifikasi, karena pada tahun tersebut PT. Kalbe Farma Tbk tidak membutuhkan dana baik itu dari luar yaitu pinjaman maupun dengan penambahan jumlah saham.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: > 650 Management > 657 Accounting > Financial reports
Divisions: Faculty of Economics and Business > Department of Accounting
Depositing User: Mrs Christiana Sundari
Date Deposited: 25 Apr 2017 03:19
Last Modified: 25 Apr 2017 03:19
URI: http://repository.unika.ac.id/id/eprint/13764

Actions (login required)

View Item View Item