WOHANGARA, B. RETANG (2026) MODEL KETANGGUHAN BUDAYA DAN PENGETAHUAN EKOLOGIS TRADISIONAL: PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN INDIKATOR KUALITATIF DI SUMBA TIMUR. S3 thesis, UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG.
|
Text
22.O2.0002 - B.RETANG WOHANGARA-COVER_a.pdf Download (904kB) | Preview |
|
|
Text
22.O2.0002 - B.RETANG WOHANGARA-ISI_a.pdf Restricted to Registered users only Download (6MB) |
||
|
Text
22.O2.0002 - B.RETANG WOHANGARA-DAPUS_a.pdf Download (924kB) | Preview |
|
|
Text
22.O2.0002 - B.RETANG WOHANGARA-LAMP_a.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
Abstract
Penelitian disertasi ini mengisi kesenjangan teoretis dan empiris dalam kajian Ketangguhan Budaya (KB) pada komunitas tradisional. Konsep KB tidak sepenuhnya baru, namun pembahasannya masih bersifat konseptual dan terfragmentasi, serta belum dilengkapi dengan indikator-indikator kualitatif yang jelas dan utuh, yang dapat dioperasionalisasikan dalam penelitian empiris. Selain itu, penelitian ini juga mengisi kesenjangan empiris karena masih terbatasnya kajian KB dalam konteks sistem sosial– ekologis komunitas tradisional, khususnya di Sumba. Tujuan penelitian adalah, pertama pada tataran teoritis: merumuskan indikator-indikator kualitatif KB melalui Telaah Pustaka Sistematis yang meliputi penetapan pertanyaan penelitian, pengumpulan dan penyaringan literatur, serta sintesis temuan. Kedua pada tataran praktis: menerapkan indikator tersebut untuk menilai bagaimana komunitas tradisional mempertahankan dan mentransformasikan pengetahuan, praktik serta nilai budayanya dalam konteks perubahan sosial-ekologis. Mini-etnografi digunakan untuk memperoleh pemahaman kontekstual mengenai praktik KB melalui wawancara mendalam, observasi, Diskusi Kelompok Terarah, serta analisis dokumen dan materi audio-visual. Pengumpulan data dilakukan secara langsung di lapangan dan secara virtual untuk menjaga keterlibatan kultural dan refleksivitas peneliti. Telaah Pustaka Sistematis merumuskan enam indikator kualitatif KB, yaitu: (1) Identitas dan Pewarisan Budaya, (2) Kapasitas Adaptasi dan Inovasi, (3) Kohesi dan Jejaring Sosial, (4) Tata Kelola Sumber Daya Alam Berbasis PET, (5) Institusi dan Kepemimpinan Budaya, serta (6) Interaksi dengan dan Dukungan Kekuatan Eksternal. Temuan empiris menghasilkan sebuah model KB yang menunjukkan bahwa kohesi dan jejaring sosial merupakan pilar KB paling kuat, yang tercermin dalam solidaritas kekerabatan, prinsip keselarasan, dan praktik timbal balik. Indikator kuat berikutnya adalah identitas budaya bersama dan pewarisan lintas generasi yang diperkuat oleh kepercayaan Marapu, bahasa Kambiara, sistem kekerabatan kabihu, dan tradisi lisan. Kesadaran identitas sebagai T’au Humba juga mendorong berbagai upaya revitalisasi budaya, termasuk sekolah adat, festival budaya, serta pemanfaatan platform digital untuk mendorong kreativitas dan partisipasi kalangan muda. Indikator Institusi dan kepemimpinan budaya serta interaksi dan dukungan kekuatan luar berada di urutan berikutnya. Institusi budaya seperti Marapu, kampung adat, dan kepemimpinan tradisional masih menjadi otoritas moral sambil menyesuaikan diri dengan sistem tata kelola modern. Kolaborasi dengan aktor eksternal seperti pemerintah, LSM, dan sektor swasta telah berkembang menuju kemitraan yang lebih setara. Namun demikian, indikator tata kelola sumber daya alam berbasis PET menunjukkan tantangan terbesar, terutama dalam integrasinya ke dalam sistem tata kelola formal. Dengan demikian, kontribusi dan kebaruan penelitian terletak pada perumusan indikator-indikator kualitatif KB yang komprehensif melalui sintesis perspektif Sistem Sosial–Ekologis, Pengetahuan Ekologis Tradisional, dan Ekologi Politik. Indikator-indikator tersebut digunakan sebagai kerangka analitis dalam penelitian minietnografi pada tiga komunitas tradisional di Sumba Timur. Secara metodologis, penelitian ini juga menawarkan inovasi melalui integrasi dua pendekatan penelitian, yaitu Telaah Pustaka Sistematis dan mini-etnografi dalam kajian KB. Penelitian ini menjadi urgen di tengah meningkatnya tekanan sosial-ekologis pada era Antroposen, yang tidak hanya mengancam keberlanjutan lingkungan, tetapi juga mempercepat erosi budaya, pengetahuan ekologis, serta kapasitas adaptif komunitas tradisional. Model KB yang dihasilkan dapat digunakan sebagai kerangka analitis ketangguhan komunitas budaya/adat di tempat lain. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa KB bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sebuah proses adaptif yang memberi daya bagi komunitas tradisional untuk menjaga keseimbangan budaya dan ekologi mereka di tengah perubahan zaman.
| Item Type: | Thesis (S3) |
|---|---|
| Subjects: | 300 Social Sciences |
| Divisions: | Faculty of Environmental Science and Technology > Doctoral Program in Environmental Science |
| Depositing User: | mr Dwi Purnomo |
| Date Deposited: | 22 Oct 2026 07:44 |
| Last Modified: | 22 Oct 2026 07:44 |
| URI: | http://repository.unika.ac.id/id/eprint/40379 |
| Keywords: | ketangguhan budaya, sistem sosio-ekologis, Pengetahuan Ekologis Tradisional, ekologi politik, komunitas tradisional, Sumba Timur |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
