Search for collections on Unika Repository

PERAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM PENANGGULANGAN RESIDIVISME TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI KASUS PADA LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS I SEMARANG)

MULIANINGSIH, MEINAWATI (2025) PERAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN DALAM PENANGGULANGAN RESIDIVISME TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI KASUS PADA LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS I SEMARANG). S1 thesis, UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG.

[img]
Preview
Text
21.C1.0015-MEINAWATI MULIANINGSIH-COVER_a.pdf

Download (770kB) | Preview
[img] Text
21.C1.0015-MEINAWATI MULIANINGSIH-BAB_I_a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (876kB)
[img] Text
21.C1.0015-MEINAWATI MULIANINGSIH-BAB_II_a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
[img] Text
21.C1.0015-MEINAWATI MULIANINGSIH-BAB_III_a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
[img] Text
21.C1.0015-MEINAWATI MULIANINGSIH-BAB_IV_a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (648kB)
[img]
Preview
Text
21.C1.0015-MEINAWATI MULIANINGSIH-DAPUS_a.pdf

Download (808kB) | Preview
[img] Text
21.C1.0015-MEINAWATI MULIANINGSIH-lamp_a.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)

Abstract

Residivisme tindak pidana narkotika menjadi tantangan serius dalam sistem pemasyarakatan di Indonesia. Penelitian ini menganalisis peran dan efektivitas Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang dalam menanggulangi residivisme tindak pidana narkotika melalui program pembinaan dan rehabilitasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan pihak Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang dan narapidana residivis tindak pidana narkotika, serta studi kepustakaan. Spesifikasi penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan analisis data kualitatif untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas program pembinaan dan rehabilitasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, ditemukan bahwa Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang hanya menyediakan rehabilitasi sosial tanpa adanya rehabilitasi medis, yang seharusnya menjadi bagian dari pemulihan bagi pecandu narkotika. Ketiadaan rehabilitasi medis bukan merupakan kebijakan internal Lembaga Pemasyarakatan, melainkan keputusan dari pemerintah pusat. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian dengan ketentuan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang mewajibkan pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika untuk menjalani rehabilitasi medis dan sosial. Secara gramatikal dan hukum, penggunaan kata “dan” dalam Pasal tersebut mengandung konsekuensi bahwa kedua bentuk rehabilitasi harus diberikan secara bersamaan atau terpenuhi secara menyeluruh. Dengan demikian, jika hanya salah satu bentuk rehabilitasi yang tersedia, maka ketentuan dalam Pasal ini belum sepenuhnya dipatuhi. Akses terhadap layanan rehabilitasi masih terbatas karena keterbatasan kapasitas, yang menyebabkan tidak semua narapidana dapat mengikuti program ini. Faktor lain yang turut memengaruhi efektivitas pembinaan adalah perbedaan tingkat ketergantungan narapidana, latar belakang sosial, serta keterbatasan sarana dan prasarana dalam mendukung rehabilitasi yang berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, program pembinaan dan rehabilitasi yang diterapkan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang belum sepenuhnya efektif dalam menekan angka residivisme. Hal ini terlihat dari masih adanya narapidana yang kembali terlibat dalam penyalahgunaan narkotika setelah bebas, meskipun telah mengikuti program pembinaan dan rehabilitasi selama menjalani masa pidana.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: 300 Social Sciences > 340 Law
300 Social Sciences > 340 Law > 345 Criminal law
Divisions: Faculty of Law and Communication > Department of Law
Depositing User: Mr Yosua Norman Rumondor
Date Deposited: 25 Jun 2025 06:23
Last Modified: 25 Jun 2025 06:23
URI: http://repository.unika.ac.id/id/eprint/36894
Keywords: UNSPECIFIED

Actions (login required)

View Item View Item